SEKTOR UNGGAS JERMAN MERANGKUL GEN Z — Illustration 1

Berlawanan dengan anggapan umum, di Jerman Gen Z sering memasak makanannya sendiri dan sebagian besar dari mereka mengonsumsi daging. Bagi lebih dari separuh kelompok ini, daging unggas menjadi pilihan utama.

Tren nutrisi utama di kalangan generasi muda Jerman adalah protein. Di antara berbagai sumber protein, telur dan daging unggas menempati posisi teratas, diikuti oleh produk susu, bubuk protein, daging sapi, dan ikan.

Temuan ini merupakan bagian dari survei yang dilakukan oleh Civey atas nama Zentralverband der Deutschen Geflügelwirtschaft e.V. (ZDG), organisasi industri perunggasan Jerman.

Di rentang usia 16 hingga 29 tahun, 1 dari 2 orang memasak untuk diri mereka sendiri setiap hari, 71% mengonsumsi makanan secara sadar, 83% responden rutin menyantap daging, dan bagi sebagian besar dari mereka, protein adalah komponen yang wajib ada.

Daging dan makanan nabati sering kali disajikan bersama dalam satu hidangan. Hanya sekitar 1 dari 9 orang yang menjalani pola makan vegetarian atau vegan (11%).

Terkait pemilihan jenis daging, para responden memiliki preferensi yang jelas: 52% memilih daging unggas, 23% daging sapi, dan 15% daging babi. Preferensi terhadap daging unggas terlihat sangat menonjol di kalangan perempuan, dengan 57% memilih daging unggas dibandingkan 19% yang memilih daging sapi. Sementara itu, di kalangan laki-laki, 46% menyukai daging unggas dan 28% lebih memilih daging sapi.

Sekitar 3 dari 5 responden menganggap daging unggas sebagai elemen penting untuk mendapatkan makanan yang lezat sekaligus sehat. Bahkan, 7 dari 10 responden meyakini bahwa daging unggas dapat berperan penting dalam pola makan yang kaya protein.

Direktur pelaksana ZDG, Wolfgang Schleicher, menyatakan, “Survei ini meluruskan berbagai prasangka mengenai Gen Z. Survei ini juga mematahkan mitos bahwa Gen Z sebagian besar adalah vegan atau vegetarian. Anggapan yang sering terdengar ini keliru. Mengonsumsi daging tetap menjadi hal yang lazim di kalangan Gen Z. Mereka memasak sendiri makanan mereka. Mereka membuat keputusan secara sadar dan tahu persis apa yang penting bagi mereka: cita rasa yang enak, pengalaman bersantap bersama, asupan protein yang cukup, harga yang terjangkau, serta cara penyajian yang praktis dimana semua aspek ini harus terpenuhi. Daging unggas memenuhi semua kriteria tersebut: rasanya lezat, kaya akan protein berkualitas tinggi, serta mudah dipadukan dengan sayuran, salad, maupun hidangan dalam mangkuk (bowl).”

Bagi Gen Z, makanan bukan sekadar tersaji di piring, tetapi juga hadir di internet: 1 dari 5 responden mengaku membagikan foto atau konten lain terkait makanan yang mereka konsumsi melalui media sosial setiap harinya. Hampir 2 dari 5 responden mengunggah konten bertema makanan setidaknya seminggu sekali.

Mereka juga mencari inspirasi melalui internet. Saat ditanya dari mana mereka memperoleh ide dan inspirasi untuk hidangan serta informasi mengenai pola makan, 39% responden menyatakan aktif melakukan riset di internet, 26% mengikuti tren media sosial dan menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI), 25% mengikuti kreator konten atau influencer, 21% mengandalkan aplikasi atau perangkat pelacak nutrisi, dan 14% membaca artikel atau blog daring.