Jika ditinjau lebih dalam dari aspek anatomi dan fisiologi unggas, terlihat jelas bahwa saat mengalami stres akibat panas atau tekanan yang meningkat dari virus enterotropik, saluran pencernaan menjadi salah satu organ yang paling rentan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan usus sangatlah penting untuk mempertahankan performa produksi, sekaligus menjamin kualitas daging dan kesejahteraan hewan. Dalam konteks ini, senyawa bioaktif dari zaitun hadir sebagai strategi nutrisi yang menjanjikan.
Spanyol merupakan produsen minyak zaitun terkemuka di dunia. Akibatnya, sejumlah besar produk sampingan termasuk daun zaitun, ampas zaitun, dan air limbah dari penggilingan zaitun dihasilkan setiap tahun. Hingga belum lama ini, bahan-bahan tersebut sebagian besar dianggap sebagai limbah yang hampir tidak memiliki nilai komersial.
Penelitian selama satu dekade terakhir menunjukkan bahwa produk-produk sampingan ini ternyata masih kaya akan senyawa yang aktif secara biologis. Sifat anti-inflamasi dan antioksidannya menawarkan potensi yang cukup besar, tidak hanya bagi kesehatan manusia tetapi juga dalam produksi peternakan.
Hal ini mencerminkan pendekatan nutrisi yang inovatif sekaligus menjadi contoh luar biasa dari ekonomi sirkular.
Studi terkini yang dilakukan di Kasetsart University (Thailand), bekerja sama dengan Lucta S.A., mengevaluasi efek senyawa bioaktif zaitun pada ayam broiler yang dipelihara dalam kondisi stres akibat panas.
Penelitian ini tidak hanya menilai kinerja produksi, tetapi juga respons imun, integritas usus, indikator kesejahteraan, serta kualitas daging. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah suplementasi senyawa bioaktif zaitun dalam pakan dapat meningkatkan kinerja ayam, baik dengan keberadaan maupun ketiadaan salinomisin suatu ionofor yang, selain memiliki aktivitas koksidiostatik, juga dapat membantu mengurangi peradangan usus.
Salah satu temuan yang paling relevan adalah kemampuan senyawa bioaktif zaitun dalam menurunkan rasio heterofil terhadap limfosit (H/L), yang merupakan indikator stres fisiologis yang telah diakui pada unggas. Rasio H/L yang tinggi berkaitan dengan peningkatan stres dan status peradangan sistemik.
Ayam yang diberi suplementasi senyawa bioaktif zaitun menunjukkan rasio H/L yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak diberi suplementasi (2,28 berbanding 2,63; P < 0,01), yang mengindikasikan penurunan respons stres fisiologis.
Dalam studi ini juga, ayam yang menerima senyawa bioaktif zaitun menunjukkan skor footpad dermatitis yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol, yang mengindikasikan adanya perbaikan pada kesehatan saluran pencernaan maupun kesejahteraan hewan secara keseluruhan.
Ayam broiler yang diberi suplementasi senyawa bioaktif zaitun menunjukkan tingkat drip loss (kehilangan cairan) yang jauh lebih rendah, disertai dengan penurunan oksidasi lipid pada daging dada. Manfaat ini teramati baik dengan maupun tanpa penambahan salinomisin dalam ransum pakan.
Dari perspektif komersial, hasil ini menunjukkan peningkatan kapasitas pengikatan air dan stabilitas oksidatif yang lebih baik. Karakteristik yang berpotensi memperpanjang masa simpan daging unggas segar.
Selain itu, penelitian ini menunjukkan peningkatan kadar asam lemak tak jenuh tunggal maupun asam lemak tak jenuh ganda pada unggas yang diberi suplemen senyawa bioaktif dari zaitun.
Pemanfaatan senyawa bioaktif yang berasal dari produk sampingan zaitun membuka peluang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan hewan serta kualitas produk unggas, sekaligus memberikan nilai tambah pada bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah pertanian. Dengan demikian, hal ini menjadi contoh yang sangat baik mengenai keberlanjutan dan ekonomi sirkular dalam produksi unggas modern.